Survive di Jakarta


Namun saya tetap harus bersyukur juga, karena bisa tinggal di kamar kost yang bagus banget (sebagus harganya). Ada TV kabel, AC, kasur busa (model spring bed tapi ada kolongnya), dan kamar mandi luar yang bersih. Kamar kostku ada di tingkat 2 dan terbuka sehingga gampang ngejemur baju. Bahkan penghuni kost yang di bawah, yang punya kamar mandi pribadi pun kalau menjemur kadang ke atas juga (padahal mereka membayar lebih mahal :D ) Dan kami yang tinggal di atas nggak takut bau kamar mandi mempengaruhi kamar. Di depan kamar kita dapat melihat gedung-gedung jakarta yang penuh dengan lampu2, kalau beruntung mungkin kita bisa menjumpai ufo yang sedang terbang di angkasa malam. Tetangga-tetangga kost juga baik-baik, baik yang diatas maupun di bawah. Bahkan yang cantik juga ada (lho?).
Pernah di suatu hari, ketika hujan, jemuran saya diangkatin sama mereka. Pernah juga ketika hujan turun disertai angin kencang, tetangga memindahkan sepatu dan tempat jemuranku ke tempat yang kering, sementara dia sendiri basah-basahan. Saat itu saya asyik terlelap tidur... ketika sahur saya pernah ditawarin makan nasi dan semacam sarden ikan yang kelihatannya sangat enak. Sayangnya saya tidak bisa makan ikan laut yang tidak bersisik seperti Tuna, teri dan ikan sarden ikan itu. Saya pernah diajakin jalan sama teman sekost, dan ditraktir minum jus seharga Rp 6000,- dan yang lebih gila lagi, diajak makan di restoran Hot Pot, yang harganya jelas mahal banget sehingga daftar harga menunya tidak diberikan secara bebas. Kalau kita makan di situ, kita akan memasak sendiri makanannya, seperti di Hanamasa. Dan makanan di situ juga enak banget. Ada juga menu yang ingin saya makan tapi nggak boleh, yaitu semacam bakso ubur-ubur. Pelayan di situ menaruh tagihannya berupa map kecil, dan temanku memasukkan uang di situ. Kemudian kembaliannya diserahkan juga melalui map itu. Karena pembayarannya pakai cara tutup-tutupan seperti ini, saya yakin pasti harga makanannya mahal sekali.
Juga waktu saya sakit, ada teman saya datang dan tidur di rumah, kemudian dia mencucikan baju-baju saya. Bukannya malas, tapi saya tidak bisa terkena air dingin terlalu sering karena masih sakit. Dan disini dokter juga murah. Saya yang sakit tenggorokan dan pilek hanya mengeluarkan uang Rp45.000,- untuk berobat. Itu sudah termasuk ongkos dokter Rp12.500,- , obat antibiotik, anti pilek dan demam, permen tenggorokan troches dan vitamin C therabex. Kalau di Bandung, dengan penyakit yang sama saya bisa jebol seratus ribuan, karena dokternya suka memakai resep obat antibiotik kualitas tinggi untuk penyakit-penyakit berat, dan bermerek sehingga harganya aduhai mahalnya. Semoga saya bisa cepet sembuh, teman2 semua musti doain ya! Ntar kalo teman2 pada sakit bakal saya doain juga deh :D
Oiya, kalo ada teman2 yang rumahnya dekat jl Thamrin atau Jl Wahid Hasyim, kasih tau ya! Saya mau ngumpulin teman2 di planet jakarta ini soalnya.....Kalo mau main ke kostan juga boleh, asal musti janjian dulu. Paling juga hari sabtu atau minggu, syukur2 kalo mau bantuin nyuci dan nyeterika baju juga :D